HATI YANG LAIN: PENYESALAN - By. Ruffie Lucretia

Sunday, December 24, 2017



Setelah insiden di Jogya yang membuat hati Nana hancur, kini Nana merenungkan semua apa yang dikatakan oleh Lintong. Dalam perjalan pulang ke Jakarta, Nana hanya bisa melamun. 

Ponsel Nana selalu berbunyi sepanjang perjalanan dari Jogya menuju Jakarta, di ponselnya tertera nomor mas Gema - suaminya. Namun, dering ponsel tersebut tak digubris oleh Nana.

Nana jadi berpikir lagi tentang alasan dia menikahi mas Gema.

Awalnya memang Nana menikah dengan mas Gema karena bermotif kan dendam kepada Riza, namun setelah menikahpun dia masih berhubungan dengan Riza walaupun sekarang sudah tidak lagi. Akhirnya Nana tersadar, ternyata alasan terbesar dia menikah dengan mas Gema karena faktor ekonomi. Iya, Nana sebagai tulang punggung keluarga, ia di desak terus oleh kedua orangtuanya agar cepat – cepat menikah supaya kehidupannya lebih baik. 

Seketika itu juga, Nana jadi terbayang kejadian beberapa tahun yang lalu.

***

Waktu itu, Keluarga Nana memang bukan berasal dari keluarga miskin. Papanya Nana bekerja di salah satu perusahaan BUMN dan sudah memiliki jabatan yang mapan hidupnya pun serba kecukupan. Memiliki rumah dan mobil mewah, Mamanya Nana selalu sibuk dengan segala aktivitas ibu – ibu pejabat sosialita sedangkan adiknya sehabis pulang sekolah terkadang kongkow di mall sambil ngencengin cowok – cowok seusianya dan Nana sendiri lebih menyukai kegiatan menulis dan bergabung dengan berbagai komunitas relawan sosial. 

Lambat laun karena papanya Nana terbelit hutang kartu kredit segalanya menjadi berubah dan kehidupan mereka mendadak jadi jatuh miskin. Harta yang mereka miliki ludes seketika tak tersisa: rumah, mobil bahkan aset – aset tanah yang mereka tabung untuk masa pensiun pun terpaksa dijual guna membayar hutang kartu kredit. 

Tak hanya itu, setelah menjual semuanya ternyata tidak bisa menutupi bunga hutang yang terlalu besar. Kemudian Nana harus banting tulang demi kebutuhkan semua keluarganya berikut membayar bunga kartu kredit yang tersisa. Untung saja Nana hanya memiliki satu orang adik perempuan, walaupun terpaut usia delapan tahun, tapi Nana cukup bersyukur setidaknya dia tidak harus menanggung beban yang terlalu banyak bila memiliki adik lebih dari satu.

Papanya Nana sejak terbelit hutang memutuskan untuk pensiun dini. Dengan alasan uang pesangon dari perusahaan tempat ia bekerja bisa untuk membayar sisa bunga kartu kredit. Meskipun papanya Nana pensiun dan membayar sebagian bunganya, ternyata papanya Nana memiliki lebih dari satu kartu kredit, tak tanggung – tanggung ternyata beliau mempunyai tujuh kartu kredit kala itu. Alasannya sangat tidak masuk akal:

“tidak bisa menolak tawaran mbak – mbak SPG yang cantik” ujarnya setelah disidang oleh mama karena tiba – tiba rumah mereka kedatangan debt collector.

Nana sangat murka, bagaimana tidak. Kenapa papanya begitu ceroboh dengan alasan gak logis? Apa papanya tidak memikirkan dampak kedepannya seperti apa? Terutama untuk keuangan keluarga. Sekarang nasi sudah menjadi bubur, kita tidak bisa memutar waktu yang telah berlalu. Papanya Nana dengan sepenuh hati meminta maaf kepada istri dan juga anak – anaknya atas perbuatan yang tanpa ia pikir panjang itu.

Tahun berganti tahun hutangpun tak kunjung lunas, seharusnya Nana bisa melanjutkan kuliahnya begitu pun dengan adiknya bisa sekolah dengan tenang. Tapi, karena ulah papanya, Nana terpaksa harus berhenti kuliah dan bekerja banting tulang demi memenuhi kebutuhan keluarga dan membiayai sekolah adiknya. Sedangkan mamanya nyaris gila karena yang tadinya hidup bergelimang harta tiba – tiba harus hidup pas – pasan dalam sebuah rumah kontrakan sepetak yang terletak di gang sempit pinggiran ibukota. Positifnya, mamanya Nana tidak meninggalkan mereka tapi tetap mendampingi papa yang sedang terpuruk. 

Nana memiliki hubungan dengan seorang pria bernama Riza, awal mereka berkenalan di dunia maya kemudian berlanjut serius ke dunia nyata. Bagi Nana, Riza adalah segalanya. Tanpa Riza, Nana tidak bisa menjalani semua permasalahan keluarganya dengan tegar. Walaupun terpaut usia enam tahun dengan usia Riza yang lebih muda dari dirinya, Nana tak merasa keberatan. 

Akan tetapi, keluarga Nana dan Riza menentang hubungan mereka, sehingga mereka melakukan hubungan backstreet. Hingga pada suatu malam, mereka berbuat hal yang tidak pantas dalam hidup mereka yang belum resmi sebagai pasangan suami istri. 

Selang beberapa bulan setelah mereka melakukan hubungan intim yang dilakukan secara berkelanjutan, akhirnya Nana positif hamil. Niat Nana tidak ingin memberitahukan bahwa ia sedang mengandung kepada Riza. Namun, kondisinya kian memburuk karena setiap pagi selalu dilanda morning sickness. Keluarga Nana curiga dengan gelagat Nana. Akhirnya Nana mengakui bahwa ia sedang mengandung anaknya Riza.

Papa dan Mama Nana sangat marah, sampai hati Nana bisa berbuat hal yang dilarang oleh agama. Nana menjelaskan semuanya dengan hati tersayat, setelah sebelumnya bertemu dengan Riza dan meminta pertanggungjawaban yang berujung Riza melarikan diri.

Setelah mengalami berbagai macam tekanan yang ada, Nana terkena Depresi akut yang nyaris kehilangan nyawanya dengan melakukan percobaan bunuh diri. Beruntung nyawa Nana berhasil diselamatkan tapi tidak dengan janin yang dikandungnya.

Semenjak itu Nana menjadi orang yang anti sosial dan terkadang hilang kendali. Bahkan kepada sahabatnya -Lintong, awalnya tidak mengenali. Hari berganti hari, Nana yang depresi menjadi membaik berkat Lintong yang selalu berkunjung ke rumahnya dan menceritakan hal – hal lucu.

Setelah kondisi Nana membaik, Lintong menyarankan bahwa sebaiknya Nana tidak lari dari masalah. Apapun kondisinya Nana harus bisa menghadapi, karena dengan begitu ia bisa belajar dari kesalahan yang telah lalu. 

Suatu hari, Nana yang bekerja part time di salah satu cafe bilangan Jakarta pusat tanpa sengaja bertemu dengan mas Gema di cafe tempat ia bekerja. Rupanya pemilik cafe tersebut adiknya mas gema yang bernama Arif. Dari situlah mas gema mulai intens mengunjungi cafe bernuasana retro itu demi bisa berbicara dengan Nana.

Selang tiga bulan, hubungan Nana dan mas Gema kian dekat. Tiba – tiba mas Gema menyatakan perasaannya kepada Nana. Sebenarnya waktu itu nana masih trauma dengan hubungan pria dan wanita. Tanpa sengaja Nana mengucapkan dia tidak membutuhkan pacar, butuhnya seorang suami dihadapan mas Gema. Lanjutnya lagi, bila mas Gema serius dengannya, Nana meminta mas Gema untuk segera meminangnya.

Pikir Nana, mana mungkin seseorang yang baru dikenal dalam tiga bulan bisa langsung melamarnya. Alasan dia berbicara seperti itu karena sedang tidak ingin berhubungan dengan siapapun terlebih Nana masih kecewa dengan sikap mantannya - Riza yang menolak untuk bertanggung jawab dan lebih memilih melarikan diri. Fokus Nana saat itu adalah ingin segera keluar dari jeratan bunga kartu kredit dan bisa melanjutkan kuliahnya yang tertunda.

Selang beberapa hari, Mas Gema rupanya serius ingin meminang Nana. Panik bukan kepalang. Ucapan yang hanya selewat baginya dianggap serius oleh mas Gema. Akhirnya Nanapun jujur bahwa ia pernah menjalin hubungan serius dengan pria lain kemudian hamil diluar nikah dan keguguran. Bukan Gema namanya bila mundur ketika di tolak walaupun mengetahui bahwa Nana sudah pernah mengalami keguguran, cintanya terhadap Nana terlalu besar, toh itu sudah menjadi masa lalu pikirnya dan ia tidak terlalu peduli akan hal itu. 

Akhirnya selidik boleh selidik mas Gema tahu bahwa keluarga Nana sedang terbelit hutang. Bagaimanapun caranya Gema ingin segera meminang Nana, karena gema sangat mencintai Nana. Mas Gema yang statusnya saat itu adalah pebisnis sukses terlebih latar belakang keluarganya yang merupakan salah satu orang penting di Indonesia, sangat mudah baginya untuk segera melunasi hutang keluarga Nana.

Akhirnya mas Gema memberikan solusi untuk kesulitan ekonomi keluarga Nana. Mau tak mau Nana menerima pinangan mas Gema dan Nana resmi menjadi istrinya. Setelah Nana resmi menjadi istri sah mas Gema, Nana dilema. Sebelum Nana menikah ia sudah berkonsultasi dengan mamanya, kata mamanya menikahlah karena cinta bukan karena harus menolong keluarga. Biarlah kesulitan keluarga mama dan papa Nana yang menanggungnya yang terpenting adalah kebahagiaan anak – anaknya. 

Tapi Nana tidak setega itu untuk menolak lamaran mas Gema karena ia memberikan solusi yang paling dibutuhkan oleh keluarganya. Biarlah hati nanti yang berbicara, kalau kata orang dulu cinta itu bisa di pupuk seiring dengan waktu. 

Ketika Nana melangsungkan pernikahan, hadirlah Lintong sahabat Nana yang sudah ia kenal sejak lama, Nana mempercayakan pernikahannya kepada Lintong sebagai seksi sibuk pernikahan mereka. Lintong dulunya terkenal sebagai cowok playboy, dia sangat suka sekali wanita – wanita cantik dan berkencan dengan banyak wanita dalam satu waktu. Semenjak menyatakan cintanya terhadap Nana di sebuah restoran dan berakhir penolakan karena dianggap bercanda oleh Nana, sikap Lintong berubah total. Ia tidak terlihat lagi jalan dengan banyak wanita, Lintong lebih memperhatikan Nana. Yah, walaupun Nana tidak menganggap Lintong lebih dari sahabat. Namun, Lintong selalu ada disaat Nana butuhkan sebagai sahabat.

***
“Na, kita udah sampai nih” perkataan Lintong membuyarkan lamunan Nana

“Hah? Iya ya sudah sampai?, hehehe.. maaf gue ngelamun” balas Nana sembari nyengir

“Ah.. elo mah ngelamun mulu, udah kenapa sih jangan terlalu dibebani, bisa – bisa elo nanti pingsan terus gue yang pusing. kaya kejadian pas kita nongkrong di mall lagi asik makan eh ada yang pingsan gitu deh” canda Lintong

“Lin, plis deh gue lagi gak butuh candaan elo yah saat ini” jawab Nana dengan nada bete dan Lintong membalasnya dengan tertawa. 

Lintong memarkirkan mobilnya kedalam garasi rumah Nana kemudian Sasa pun keluar dari pintu rumah dan menghampiri.

“Mamaaa... “ teriak Sasa keluar sambil berlari dari pintu rumahnya

Nana dan Lintong keluar dari mobil yang mereka naikin dan menghampiri Sasa.

“Anak mama sayang, udah makan belum nak?” sembari memeluk dan mencium Sasa
“udah ma, tadi sama eyang” jawab Sasa memeluk Nana
“Ih.. anak mama pinter nih” 

Kemudian Sasa dan Nana masuk kedalam rumah, sedangkan Lintong dibantu oleh papanya Nana menurunkan koper – koper yang masih ada di dalam bagasi mobil dan membawanya kedalam.

***
Setelah membereskan koper dan juga mandi, Nana keluar dari kamarnya menghampiri Lintong yang sedang duduk di ruang tamu.

“Lin, gue udah mikir selama perjalanan tadi. Mungkin ini karma yang harus gue terima Lin” kata Nana sedih

“Gue memutuskan buat kasih kesempatan kedua buat papanya Sasa. Bukannya gue memaafkan perbuatan mas Gema ya Lin. Tapi gue ngeliat Sasa, Lin. Gue gak mau dia jadi gak punya figur papanya, biarlah gue yang berkorban demi keluarga ini”

“gue akan coba membicarakan hal ini secara serius dengan mas Gema, bila dia ingin memperbaiki rumah tangga kami. Dan pastinya gue bakalan ngajuin banyak persyaratan” lanjutnya

“Hmm.. Na, boleh gue kasih masukan?” tanya Lintong hati – hati

“Elo yakin udah mikirn dampak positif negatifnya?, selama ini elo udah tau kan kelakuan suami elo kaya gimana. Yakin alasanya karena Sasa?, bukan karena rasa bersalah elo diawal yang mengkhianati mas Gema?” 

“gue harap nih ya Na, nantinya elo beneran pikirin matang- matang deh. Sepengalaman gue sebagai cowok brengsek, sekali udah terjerat dengan godaan wanita susah buat tobat kecuali dengan niat yang tulus dan sekuat tenaga” 

“Apalagi mas Gema punya segalanya, cewek mana yang gak mau?” tutupnya
Nanapun termenung, bertanya dalam hati apakah keputusan yang telah ia buat benar?

Nana jadi teringat lagu kenangan dirinya bersama mas Gema, lagu yang membuat ia akhirnya berkata “yes i do, and i will marry you”

I fell in love with you,
was like a dream come true
And my love for you will never end 

Was such a special night
You lay right by my side

And I told you things I never told a soul
And now that I have you babe
I promise I'll never leave 

Cuz you are the only one that makes my life complete...


And I'm,
Crazy over you,
I dont know what to do,
I'm Crazy over you... 
A love that never ends

You're more than just a friend
And my heart and soul I'll always give to you,
The only in my life 

Someday you'll be my wife,
And I'll be with you until the end of time...
And now that I have you babe
I promise I'll never leave 
Cuz you are the only one that makes my love complete...



***
Apakah kita bertemu diwaktu yang salah?
Apakah menerima lamaranmu waktu itu salah?
Apakah kamu sekarang masih mencintai aku mas?
Apa yang harus kulakukan demi menjaga pernikahan kita?
Apa yang harus kulakukan demi membuatmu berpaling padaku lagi?

Aku rindu ketika engkau merayuku dengan sekuntum bunga mawar merah yang selalu kamu berikan di hari anniversary kita..
Aku rindu akan candaan gak penting kamu tentang semua hal..
Kemana perginya itu semua?
Kini Aku di sini sepi dan sendiri

Hampa tak berdaya

Menunggumu untuk kembali...






*bersambung*

You Might Also Like

0 comments

Like me on Facebook

Google+ Followers

Subscribe